Banten Sesuwuk Saat Tumpek Wayang, Apa Maknanya?

0
33
Banten sesuwuk
Banten sesuwuk. (ist)

balibercerita.com –
Umat Hindu di Bali memiliki beragam tradisi dan upacara keagamaan yang sarat makna. Salah satunya adalah menghaturkan banten sesuwuk atau seselat pada Sukra Wage Wayang (Dina Kala Paksa), sehari sebelum perayaan Tumpek Wayang. Lantas apa makna dari banten sesuwuk?

Pedharmawacana sekaligus Penata Layanan Operasional Urusan Agama Hindu Kementerian Agama Kota Denpasar, Putu Widya Candra Prawartana, M.Pd., menjelaskan bahwa banten sesuwuk dihaturkan sebagai bentuk permohonan agar pengaruh waktu yang bersifat kala ala paksa dapat dinetralisir.

Di sejumlah daerah di Bali, Dina Kala Paksa juga dikenal sebagai hari pamagpag kala, yakni momentum untuk menetralisir kekuatan negatif yang diyakini muncul pada waktu tersebut. Pada hari itu, umat Hindu biasanya memasang sesuwuk atau seselat sebagai penanda di setiap palinggih (bangunan suci). Sesuwuk tersebut kemudian disatukan dengan benang tridatu dan nantinya di-lebar atau dihaturkan di lebuh atau pintu masuk rumah saat Tumpek Wayang.

Baca Juga:   Tujuh Sport Tourism Pemacu Adrenalin di Bali

Hal ini dilakukan karena Dina Kala Paksa dipercaya sebagai waktu yang bersifat tenget (angker) atau leteh (kotor). Melalui persembahan tersebut, umat memohon agar waktu yang bersifat negatif dapat kembali menjadi hita kala paksa, yaitu waktu yang membawa keharmonisan dan keseimbangan.

“Banten sesuwuk yang dihaturkan menjelang Tumpek Wayang bertujuan mensterilkan atau menetralisir pengaruh kala yang bersifat ala paksa, sehingga waktu yang semula dianggap kurang baik dapat kembali menjadi waktu yang harmonis,” jelasnya.

Baca Juga:   Mangku Sudarsana Kombinasikan Pengobatan Tradisional Dengan Modern

Secara simbolis, sesuwuk dibuat dari potongan daun pandan berduri sepanjang sekitar lima sentimeter yang diolesi kapur sirih dengan tanda tapak dara atau tanda silang. Potongan daun tersebut kemudian diletakkan di dalam nyiru (sidi) yang dilengkapi benang tridatu berwarna merah, putih, dan hitam.

Di dalam nyiru tersebut juga disertakan takir berisi triketuka, yang terdiri dari mesui, kesuna (bawang putih), dan jangu, serta canang sari. Persembahan ini juga dilengkapi api dakep, yaitu api yang berasal dari sabut kelapa yang disilangkan. Setelah ritual selesai, sesaji biasanya diletakkan di tanah di depan pintu masuk rumah atau lebuh.

Baca Juga:   Pesona Puncak Gunung Batur Bikin Pendaki Ketagihan

Tradisi banten sesuwuk sendiri tercantum dalam sejumlah lontar, seperti Kala Tattwa, Sundarigama, dan Tapini Yadnya, yang menjadi pedoman dalam pelaksanaan ritual tersebut. Melalui simbol duri pada daun pandan, umat diingatkan bahwa ketajaman bukan hanya untuk menolak penderitaan atau kesialan, tetapi juga sebagai sarana spiritual untuk mengelola waktu agar kembali menjadi hita atau membawa kebaikan.

Tradisi ini pun menjadi salah satu simbol penting dalam kehidupan religius umat Hindu Bali sebagai bentuk penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, sekaligus upaya menjaga keseimbangan dan keharmonisan alam semesta menjelang Tumpek Wayang. (BC18)