Cerita di Balik Pemanfaatan SWRO di Nusa Dua

0
82
SWRO
Hasil pengolahan SWRO air bersih layak minum. (BC5)

balibercerita.com –
Kawasan pariwisata The Nusa Dua terus memperkuat ketahanan infrastruktur utilitas melalui penerapan teknologi sea water reverse osmosis (SWRO) sebagai solusi strategis penyediaan air bersih berkelanjutan. Langkah ini berangkat dari pengalaman krisis air bersih di masa lalu yang sempat terjadi di kawasan tersebut.

Direktur Utama ITDC Nusantara Utilitas (ITDC NU), AA Istri Ratna Dewi mengungkapkan bahwa Nusa Dua pernah mengalami kejadian mati air selama sekitar 10 hari pada masa pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, tepat saat Presiden menghadiri acara penting di kawasan tersebut. Saat itu, pasokan air sepenuhnya mengandalkan truk tangki yang berjejer untuk memenuhi kebutuhan kawasan. Peristiwa tersebut menjadi titik awal munculnya kesadaran dan upaya serius untuk mengelola air secara mandiri.

Seiring perkembangan kawasan, pengelolaan utilitas di The Nusa Dua terus ditingkatkan. Laguna yang menjadi ikon kawasan kini dilengkapi fasilitas pengolahan air, memperindah sekaligus memperkuat fungsi lingkungan.

Infrastruktur pendukung seperti fiber optik juga telah terpasang sebagai backbone kawasan, sejalan dengan harapan menjadikan Nusa Dua sebagai smart city. Selain itu, pemanfaatan energi bersih turut dikembangkan melalui penggunaan gas sebagai pengganti BBM, pemasangan solar rooftop, hingga distribusi LNG melalui jaringan pipa pertama di Indonesia.

Ia menegaskan bahwa penerapan SWRO merupakan langkah konkret untuk memperkuat ketahanan air kawasan sekaligus mengurangi tekanan terhadap penggunaan air tanah.

“Dengan teknologi yang aman dan terukur ini, kami memastikan pasokan air bersih yang stabil bagi seluruh tenant dan wisatawan tanpa mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Pengakuan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi pengolahan air laut menjadi air layak konsumsi menjadi bukti bahwa inovasi hijau dapat berjalan sejalan dengan efisiensi dan standar layanan yang tinggi,” ujarnya.

Baca Juga:   Produk Lokal Diseleksi Jelang Penyelenggaraan Badung UMKM Week 2025

Pengolahan air oleh ITDC NU dilakukan sesuai kewenangan yang dimiliki, yakni hanya untuk wilayah di dalam kawasan The Nusa Dua. Sementara itu, pengelolaan air di luar kawasan tetap menjadi kewenangan PDAM. Saat ini, pengalihan suplai air dilakukan secara bertahap karena sebagian hotel masih menggunakan air tanah dan memiliki kerja sama sebelumnya.

“Ke depan, kami menargetkan 100 persen kebutuhan air di kawasan Nusa Dua disuplai oleh ITDC NU. Kami ingin kualitas air di dalam kawasan berbeda dengan di luar, dengan jaminan kontinuitas, kualitas, dan kuantitas,” jelasnya.

Saat ini, kontrak jual-beli air di kawasan telah mencapai lebih dari 80 persen. Namun, pembukaan aliran air ke masing-masing hotel masih dilakukan secara bertahap, menunggu kesiapan infrastruktur hotel. Dari sisi harga, air yang disuplai ITDC NU masih berada di bawah harga air PDAM, yakni sekitar Rp18.000 per meter kubik, meskipun kualitasnya diyakini lebih baik.

Untuk kapasitas produksi, ITDC NU saat ini mampu menghasilkan sekitar 3.000 meter kubik per hari. Dengan satu fasilitas tambahan yang tengah dalam proses commissioning, kapasitas diharapkan meningkat menjadi 7.000 meter kubik per hari pada awal Februari.

Baca Juga:   6.500 Mahasiswa Baru Ikuti PKKMB Prabhu Udayana 2025, Rektor Tegaskan Tanpa Kekerasan dan Diskriminasi

Sementara, kebutuhan air kawasan dengan okupansi normal diperkirakan mencapai 8.000 meter kubik per hari, dan kapasitas ini masih dapat ditingkatkan mengingat sumber air laut yang tidak terbatas, dengan penyesuaian pada kapasitas pompa.

Hingga kini, fasilitas SWRO telah melayani 15 tenant yang terdiri dari 11 hotel besar. Pengambilan air laut dilakukan di kawasan Pantai Samuh, tepat di depan Club Med. Air laut dipompa ke rumah pompa, dialirkan ke laguna dan reservoir untuk proses pembersihan awal dari pasir dan kotoran. Selanjutnya, air melewati tahap multi filter filter (MFF), intermediate tank, dan kemudian masuk ke proses reverse osmosis bertekanan tinggi.

Proses SWRO membutuhkan energi besar karena menggunakan tekanan tinggi. Untuk meningkatkan efisiensi, ITDC NU memasang solar rooftop. Dengan listrik PLN, konsumsi berada di kisaran 1.300-an, sedangkan dengan solar rooftop dapat ditekan hingga 700–900an.

Air hasil olahan kemudian disimpan kembali di reservoir untuk menjaga tekanan hingga ke hotel sekitar 2 bar, sekaligus menstandarkan kualitas air dari berbagai sumber, termasuk reclaimed water. Berbeda dengan banyak fasilitas SRO lain yang mengambil air dari air tanah akibat kendala perizinan, ITDC NU memilih langsung memanfaatkan air laut.

Pengambilan air tanah dalam jumlah besar dinilai tidak ramah lingkungan dan dibatasi oleh regulasi terbaru Kementerian ESDM, yang hanya mengizinkan pengeboran maksimal 10 meter kubik per hari untuk keperluan air cadangan. “Pertimbangannya karena Nusa Dua memang tidak memiliki sumber air lain selain air laut,” tegasnya.

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Buka Badung Education Fair Tahun 2025

Ia juga memastikan bahwa air hasil SWRO layak minum. Bahkan, reclaimed water yang telah melalui proses pengolahan limbah dan reverse osmosis dinilai aman untuk dikonsumsi. Namun demikian, jaringan pipa di hotel-hotel Nusa Dua hanya menyediakan satu jalur air bersih sesuai perjanjian awal, bukan pipa air minum terpisah.

Sementara itu, Direktur Operasi ITDC, Troy Warokka menyampaikan bahwa penerapan utilitas hijau seperti SWRO, instalasi pengolahan air limbah (IPAL), waste management terintegrasi, dan reclaim water telah memastikan aktivitas pariwisata berjalan efisien, aman, dan tetap menjaga daya dukung lingkungan.

Selama tiga bulan terakhir, fasilitas SWRO di The Nusa Dua telah menghasilkan 331.382 meter kubik air bersih. Saat beroperasi penuh, kapasitas produksinya mencapai 1.314.000 meter kubik air bersih per tahun. Pemanfaatan air laut sebagai sumber alternatif ini secara signifikan mengurangi ketergantungan kawasan terhadap air tanah dan air tawar, meningkatkan ketahanan air, serta mendukung keberlanjutan operasional pariwisata di tengah tantangan perubahan iklim.

Penerapan fasilitas SWRO ini juga mengukuhkan ITDC NU sebagai entitas usaha di bawah ITDC yang menorehkan pencapaian bersejarah sebagai perusahaan pertama di Indonesia yang memperoleh izin resmi dari KKP untuk mengolah air laut menjadi air layak konsumsi melalui teknologi modern. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini