balibercerita.com –
Fakultas Brahma Widya Universitas Hindu Negeri (UHN) I Gusti Bagus Sugriwa Denpasar menggelar Rembug Sastra Siwaratri pada Sabtu (17/1). Kegiatan ini membahas pemaknaan hari-hari suci Hindu, khususnya Siwaratri, Nyepi, dan Tilem, dari sudut pandang sastra, filsafat Vedanta, serta astronomi Hindu (Jyotisha).
Diskusi menghadirkan dua narasumber yakni Dr. I Gede Suwantana, M.Ag. dan Gede Endy Kumara Gupta, S.IP., M.Ag. Keduanya menyoroti pentingnya pendalaman makna teks suci sebagai pondasi praktik keberagamaan Hindu di tengah perkembangan zaman.
Dr. I Gede Suwantana menyampaikan bahwa tantangan utama umat Hindu saat ini bukan pada minimnya pelaksanaan ritual, melainkan pada cara memahami dan menafsirkan teks suci. Ia menilai praktik keagamaan kerap berhenti pada aspek lahiriah, sementara dimensi batiniah yang menjadi inti ajaran belum sepenuhnya dihayati.
Menurutnya, pemaknaan Siwaratri selama ini sering dibatasi pada kisah Lubdaka secara harfiah. Padahal, dalam perspektif Vedanta, kisah tersebut bersifat simbolik dan merepresentasikan perjalanan spiritual manusia. Lubdaka digambarkan sebagai simbol manusia yang menjalankan swadharma dan terus mencari tujuan hidupnya, sementara elemen-elemen seperti hutan, malam, tidak tidur, dan daun bila melambangkan tahapan kesadaran menuju pencerahan.
“Ketika kesadaran (citta) mampu berdiam dalam sunya dan pikiran bebas dari konstruksi, maka segala tindakan akan bermuara pada bhakti,” jelasnya seraya mengutip ajaran Vijñāna Bhairava Tantra.
Ia menambahkan bahwa pencapaian Lubdaka tidak terletak pada hasil buruan, melainkan pada keberhasilannya mencapai kesadaran baru yang membebaskan dari ikatan penderitaan.
Dr. Suwantana juga mengaitkan Siwaratri dengan Nyepi sebagai dua momentum spiritual yang sama-sama menekankan pengendapan kesadaran. Ia memaknai Catur Brata Panyepian (amati geni, amati karya, amati lelanguan, dan amati lelungan) sebagai proses penyatuan energi, tindakan, emosi, dan kecerdasan ke dalam keadaan sunya.
Sementara itu, Gede Endy Kumara Gupta memaparkan alasan sejumlah hari raya besar Hindu, termasuk Nyepi dan Siwaratri, berpusat pada Tilem (Amavasya) dari perspektif astronomi Hindu. Ia menjelaskan bahwa penetapan hari suci Hindu didasarkan pada hubungan kosmis antara matahari, bulan, bumi, dan bintang-bintang.
Ia menyebutkan bahwa secara tekstual Siwaratri merujuk pada Māghamāsa Kṛṣṇa Caturdaśī sebagaimana tercantum dalam Siwa Purana dan Skanda Purana. Namun, perbedaan sistem penanggalan tropikal dan siderial menyebabkan perbedaan waktu perayaan antara Bali dan tradisi Hindu di luar Nusantara.
“Tilem adalah titik klimaks kegelapan. Dalam tradisi Siwaistik, Siwa tidak dikaitkan dengan purnama, tetapi justru dengan kegelapan. Karena di sanalah kesadaran diuji dan ditumbuhkan,” ujarnya.
Ia menambahkan bahwa perayaan Siwaratri yang jatuh pada fase Caturdasi, menjelang Tilem, mencerminkan kondisi psikologis manusia sebelum memasuki puncak kegelapan dan ketakutan.
Diskusi juga menyinggung tantangan generasi muda dalam memaknai hari-hari suci Hindu. Para narasumber menilai persoalan tersebut tidak semata-mata disebabkan oleh degradasi moral atau pengaruh zaman, melainkan karena perlunya metode pewarisan makna ajaran yang lebih kontekstual tanpa meninggalkan esensinya.
Selain itu, muncul gagasan pengembangan “laboratorium hidup” melalui kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan desa adat. Upaya ini diharapkan dapat menjembatani pemahaman akademik dengan praktik keseharian umat, sehingga ajaran sastra dan upacara Hindu tetap hidup dan relevan.
Melalui rembug sastra ini, Fakultas Brahma Widya UHN IGB Sugriwa Denpasar menegaskan pentingnya pemahaman Hindu sebagai agama yang bertumpu pada ritual, teks, simbol, dan kesadaran, bukan semata sebagai penanda kalender keagamaan. (BC10)















