
balibercerita.com –
Empat hari pascabencana banjir yang melanda Perumahan Permata Residence, Desa Mengwitani, Kecamatan Mengwi, pada 10 September 2025, tiga korban hilang masih belum ditemukan. Tim gabungan hingga kini terus melakukan pencarian dengan menyusuri aliran sungai.
Di sisi lain, Pemerintah Desa Mengwitani bersama Desa Adat Beringkit menggelar upaya niskala pada Minggu (14/9), dengan menghaturkan pacaruan serta ngaturang guru dan bendu piduka di lokasi kejadian.
Bendesa Adat Beringkit, I Ketut Sutomo menyampaikan bahwa upacara tersebut dilakukan sebagai bentuk permohonan maaf kepada Tuhan Yang Maha Esa. “Dalam situasi sekarang ini, kami memohon maaf kepada Tuhan apabila dalam kondisi sekarang, yang telah lewat, dan yang akan datang, terjadi kesalahan telah mengganggu alam. Air bisa meluap karena kondisi jalan air sempit. Inilah kami mohon maaf atas perilaku kita umat beragama,” ujarnya.
Sutomo menilai, bencana yang terjadi tidak hanya disebabkan oleh curah hujan tinggi, tetapi juga adanya kekeliruan manusia yang mengganggu keseimbangan alam. Upacara pacaruan, guru piduka dan bendu piduka tersebut diharapkan mampu menetralisir sekaligus mengharmoniskan kembali kondisi alam.
“Dengan upacara ini kami memohon semoga yang hilang segera dapat ditemukan baik dalam keadaan hidup maupun meninggal. Dan keluarga yang ditinggalkan mendapatkan perlindungan kekuatan lahir batin untuk menata dan melanjutkan hidup,” ungkapnya.
Perbekel Mengwitani, I Nyoman Suardana menambahkan bahwa meski tiga korban hilang berasal dari latar belakang kepercayaan yang berbeda, upacara tetap wajib dilakukan karena bencana terjadi di wilayah desa.
“Kalaupun yang tertimpa musibah ini adalah lain kepercayaan, namun karena beliau tinggal di Desa Mengwitani, kami selaku pimpinan desa wajib turut serta melaksanakan pencarian dan melaksanakan upacara. Mudah-mudahan dengan kami melaksanakan guru dan bendu piduka ini, yang bersangkutan bisa segera ditemukan,” terangnya.
Suardana yang ikut terjun langsung dalam pencarian mengungkapkan, tim gabungan sudah melakukan penyisiran hingga wilayah Selingsing, Tabanan, namun hasilnya masih nihil. Pencarian juga dilakukan di antara reruntuhan rumah di lokasi banjir, namun tidak ditemukan adanya korban tertimbun.
“Kemarin kami menyusuri daerah Selingsing karena ada laporan di sana diperkirakan ada bau. Tapi tim turun tidak diketemukan,” paparnya.
Ia mengakui, pencarian terkendala medan ekstrem seperti kedalaman sungai, bebatuan besar, serta tumpukan kayu dan bambu. “Di bawah jembatan Selingsing itu tumpukan sampah khususnya kayu dan bambu cukup tinggi. Kami sudah koordinasi dengan Kalaksa BPBD Badung dan dikoordinasikan dengan BPBD Tabanan. Kami juga kami sudah berkoordinasi dengan perbekel Munggu dan Cemagi untuk menginformasikan ke masyarakat, siapa tahu ada yang menemukan,” imbuhnya.
Sementara itu, keluarga korban masih terus menaruh harapan. Toto Cahyono, adik dari salah satu korban, mengaku pasrah namun berharap agar kakaknya dan anggota keluarga lainnya segera ditemukan.
“Namanya kehilangan dan sampai sekarang gak ketemu, pasti merasa sedih. Tapi karena sudah diupayakan pencarian, kami tetap menunggu. Kami hanya ingin mereka ditemukan dalam kondisi apapun. Kami pasrah, Tuhan kasih yang terbaik, kami terima dengan kondisi apapun,” ujarnya.
Toto juga ikut dalam proses pencarian hingga sejauh 4 kilometer menyusuri sungai, meski medan sangat sulit. Ia bahkan menduga korban tersangkut setelah bendungan, mengingat adanya laporan bau tidak sedap di sekitar lokasi.
“Saya langsung menyaksikan pembersihan bendungan, itu clear tidak ada apa-apa. Setelah bendungan itu, posisi aliran air itu dari lebar menjadi menyempit dan ada jembatan di atas. Di tengahnya itu ada kayak pondasi. Di situ kotoran berupa batang kayu yang besar-besar, bambu, segala macam kotoran itu menumpuk setengah dari tinggi jembatan. Kecurigaan kami kemungkinan nyangkut di sana. Saya berharap sampah di sana bisa dibersihkan,” paparnya. (BC9)
















