Libatkan 2.500 Penari, Tari Rejang Giri Putri Dipentaskan Kolosal di Pura Lingga Bhuwana

0
350
Tari Rejang
TP PKK Kabupaten Badung saat mementaskan Tari Wali Rejang Giri Putri, di Pura Lingga Bhuwana dan Pura Beji, Puspem Badung, Senin (3/7). (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Tari Wali Rejang Giri Putri dipentaskan secara kolosal oleh TP PKK Kabupaten Badung dalam upacara Nyatur Rebah di Pura Lingga Bhuwana dan Pura Beji, Puspem Badung, pada hari Purnama Kasa, Senin (3/7). Upacara ini dipuput oleh 4 orang sulinggih dan dihadiri oleh Wakil Bupati Badung Ketut Suiasa, Sekda Badung Wayan Adi Arnawa, jajaran DPRD Badung, jajaran pejabat dan ASN di lingkup Pemkab Badung.

Pementasan tari sakral yang melibatkan 2.500 orang penari tersebut dipimpin langsung oleh Ketua TP PKK Badung Nyonya Seniasih Giri Prasta bersama Ketua DWP Badung Nyonya Rasniathi Adi Arnawa. Seusai ngayah, Nyonya Seniasih Giri Prasta mengatakan, Tari Wali Rejang Giri Putri merupakan tarian sakral milik masyarakat Kabupaten Badung yang terinspirasi dari cerita Itihasa, mengisahkan Dewa Siwa dan Dewi Parwati/Giri Putri melakukan tapa brata semadi di Gunung Kailasa demi keselamatan, kesejahteraan, dan kemakmuran alam semesta beserta isinya. 

Baca Juga:   Peringati Detik-detik Waisak 2566, Umat Buddha Lakukan Meditasi 

“Tari Wali Rejang Giri Putri merupakan tari sakral milik masyarakat Kabupaten Badung. Dalam rangka mengenalkan tarian ini kepada masyarakat luas, khususnya generasi muda di Kabupaten Badung maka hari ini dalam upacara Nyatur Rebah di Pura Lingga Bhuwana, TP PKK Kabupaten Badung bekerja sama dengan TP PKK, pemerintah desa/kelurahan se-Badung ngayah menari Rejang Giri Putri melibatkan 2.500 penari,” ujarnya.

Baca Juga:   MotoGP Mandalika 2025 Dongkrak Ekonomi NTB, Okupansi Hotel Capai 100 Persen dan 44 Extra Flight

Pada saat itu, Nyonya Seniasih Giri Prasta juga menjelaskan bahwa Tari Rejang Giri Putri hanya boleh dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara Dewa Yadnya, karena tari ini merupakan tarian sakral simbol sebuah persembahan yang tulus ikhlas kepada Sang Pencipta, melambangkan kebesaran dan kemahakuasaan seorang Dewi yang mengayomi dan melindungi seisi alam semesta (Stitiming Bhuwana Langgeng). 

Baca Juga:   Bupati Jembrana Apresiasi Toleransi Warga Saat Nyepi dan Idulfitri Berdekatan

“Tari ini hanya boleh dipentaskan pada saat pelaksanaan upacara Dewa Yadnya di pura, baik itu di pura desa adat, di Pura Dang Kahyangan, maupun di Pura Kahyangan Jagat yang ada di luar Bali dan tari ini tidak boleh dipentaskan dalam perlombaan karena bersifat sakral,” terangnya. (BC13) 

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini