Beranda Sejarah Lengkapi Monumen Bom Bali, Museum Taman Perdamaian Didorong Jadi Pusat Pembelajaran Sejarah

Lengkapi Monumen Bom Bali, Museum Taman Perdamaian Didorong Jadi Pusat Pembelajaran Sejarah

0
Museum Perdamaian Bali
Proyek Museum Perdamaian Bali. (ist)

balibercerita.com –
Kehadiran Museum Taman Perdamaian Bali di Legian, Badung, diharapkan tidak sekadar melengkapi Monumen Tragedi Bom Bali, tetapi juga menjadi ruang pembelajaran sejarah sekaligus menyuarakan pesan perdamaian kepada dunia. Museum ini diharapkan mampu menjaga ingatan atas tragedi kemanusiaan tersebut agar menjadi pelajaran bagi generasi mendatang.

Ketua Yayasan Isana Dewata, Thiolina Marpaung menyampaikan, apresiasi kepada Pemerintah Kabupaten Badung melalui bupati yang telah membantu mewujudkan pembangunan museum tersebut. Menurutnya, keberadaan museum menjadi langkah penting untuk menjadikan Bali sebagai salah satu pusat pembelajaran perdamaian dunia.

“Bukan hanya gedung bangunan. Museum ini bisa bersuara kepada dunia, Bali menjadi pusat perdamaian dan bisa menjadi contoh untuk perdamaian di dunia,” ujarnya saat doa bersama mengenang Bom Bali pada 12 Oktober 2026.

Thiolina berharap museum tersebut nantinya menjadi ruang yang mampu menyentuh hati masyarakat, khususnya para korban dan keluarga korban tragedi Bom Bali. Selain mengenang peristiwa kelam itu, museum diharapkan memberikan ruang bagi masyarakat untuk berdoa, merenung, serta memahami pentingnya menjaga perdamaian.

Baca Juga:   Pemkab Badung Genjot Finalisasi PKS Pemanfaatan Lapangan Lagoon Benoa

Ia menegaskan, perdamaian merupakan kebutuhan mendasar bagi kehidupan bersama. Karena itu, pembangunan museum perlu dilanjutkan dengan keterlibatan berbagai pihak dalam mengisi dan mengembangkan materi yang akan disajikan di dalamnya. “Mari kita bergandengan tangan supaya museum ini nantinya bisa bersuara ke semua negara, terutama pada 22 negara yang masyarakatnya bisa kita lihat ada di sini sekarang,” katanya.

Sementara itu, penasihat organisasi penyintas, Haji Agus Bambang Priyanto menilai, keberadaan museum akan melengkapi fungsi Monumen Tragedi Bom Bali. Menurutnya, monumen dan museum perlu berjalan beriringan agar masyarakat, termasuk wisatawan, memperoleh pemahaman yang benar mengenai tragedi tersebut.

Baca Juga:   Dukung Vaksinasi Massal, Pramuka Peduli Bersinergi Dengan Binda Bali dan Diskes Kota Denpasar

Ia mengungkapkan, sejumlah dokumen penting telah diserahkan kepada Dinas Kearsipan Kabupaten Badung. Materi tersebut meliputi film mengenai tragedi Bom Bali, pemberitaan surat kabar dan majalah dari tingkat lokal, nasional hingga internasional, serta foto-foto penting yang dapat menjadi referensi dalam pengembangan museum.

“Monumen tanpa museum, orang sering bertanya bagaimana cerita daripada tragedi ini. Syukur kalau yang tahu persis bisa berbicara dengan benar. Tetapi yang saya takutkan, mereka yang tidak mengerti memberikan keterangan kepada wisatawan yang tidak pada tempatnya,” ujarnya.

Agus berharap berbagai dokumentasi tersebut dapat dimanfaatkan untuk memperkuat narasi sejarah yang disampaikan kepada pengunjung. Dengan demikian, museum tidak hanya menjadi pelengkap monumen, tetapi juga sumber informasi yang dapat dipertanggungjawabkan.

Selain aspek edukasi, ia turut mendorong agar penyintas tragedi Bom Bali dilibatkan dalam pengelolaan museum. Menurutnya, keterlibatan tersebut dapat menjadi bentuk perhatian pemerintah terhadap para korban yang hingga kini masih membutuhkan dukungan.

Baca Juga:   Kerusakan Sistem UPA Siligita Picu Krisis Air Bersih di Kampial

Ia berharap Pemkab Badung menyediakan ruang bagi penyintas untuk menjalankan usaha kecil, seperti berjualan kopi, camilan, atau makanan ringan. Kesempatan tersebut diharapkan dapat membantu menambah pendapatan sekaligus memberikan manfaat ekonomi dari keberadaan museum.

Agus juga meminta agar seluruh korban tragedi Bom Bali diundang ketika museum rampung dibangun. Menurutnya, pemberian apresiasi kepada para korban merupakan bagian penting dari upaya menjaga ingatan kolektif atas tragedi tersebut.

Dengan keterlibatan pemerintah, yayasan, penyintas, dan berbagai pihak lainnya, Museum Taman Perdamaian Bali diharapkan berkembang menjadi ruang yang tidak hanya merawat sejarah, tetapi juga menumbuhkan empati dan memperkuat pesan bahwa perdamaian harus terus dijaga. (BC5)