
balibercerita.com –
Momentum penyerahan hibah 11 unit bus listrik Trans Sarbagita dari Pemerintah Korea Selatan di Kawasan Niti Mandala Renon, Denpasar, Kamis (22/10), menjadi panggung penegasan arah kebijakan energi masa depan Pulau Dewata. Gubernur Bali, Wayan Koster secara terbuka menegaskan komitmennya untuk menghentikan izin pembangunan pembangkit listrik berbasis bahan bakar fosil dan beralih sepenuhnya ke energi ramah lingkungan.
Kebijakan ini diambil guna memotong rantai polusi udara di Bali yang mayoritas bersumber dari sektor ketenagalistrikan dan transportasi beremisi tinggi. Di tengah ambisi menjadikan Bali sebagai wilayah berbasis energi ramah lingkungan, Koster menegaskan tidak lagi mengizinkan pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar batu bara maupun bahan bakar fosil seperti solar. Kebijakan ini sekaligus menjadi penyulut transformasi besar-besaran tata kelola energi daerah. “Dan kami meminta kepada PLN supaya pembangkitnya dibangun dengan menggunakan bahan bakar yang ramah lingkungan, minimum transisi dengan bahan bakar gas,” tegas Koster.
Langkah berani tersebut diperkuat dengan dukungan dari pemerintah pusat. Koster dalam pidatonya menyebut upaya Bali mengembangkan energi bersih telah mendapat dukungan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto melalui alokasi kuota pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) sebesar 1.000 megawatt (MW).
“Puji syukur, niat baik ini mendapat dukungan baik dari yang terhormat Bapak Presiden Republik Indonesia, Bapak Prabowo Subianto. Bali diberikan kuota 1.000 megawatt PLTS yang telah kami siapkan di Kabupaten Jembrana dan Kabupaten Buleleng,” ujar Koster.
Proyek pengembangan PLTS skala besar yang terpusat di kawasan Jembrana dan Gilimanuk tersebut saat ini sedang dalam tahap pengurusan perizinan dan dijadwalkan mulai konstruksi pada tahun 2027. Kehadiran pasokan energi terbarukan ini diproyeksikan menjadi tulang punggung keandalan listrik Bali yang hijau.
Namun, di balik penegasan transisi energi hulu tersebut, tantangan besar di sektor hilir seperti transportasi publik juga menanti Pemprov Bali. Kehadiran 11 unit bus listrik hibah Proyek Bali E-Mobility yang dialokasikan untuk Trans Sarbagita dituntut mampu memicu minat masyarakat untuk beralih dari kendaraan pribadi ke angkutan umum.
“Bus listrik ini menjadi bagian dari upaya kita mendorong transportasi publik yang ramah lingkungan. Kita ingin Bali bergerak menuju sistem transportasi yang lebih modern, nyaman, dan berkelanjutan,” ujar Koster.
Infrastruktur bus listrik berspesifikasi TKDN dengan desain khas tri datu ini didukung 6 unit charging station hasil kolaborasi Pemprov Bali, Bappenas, GGGI, dan Kementerian Iklim, Energi, dan Lingkungan Republik Korea. Menteri PPN/Kepala Bappenas Rachmat Pambudy menilai langkah terpadu Bali dari sektor hulu hingga hilir ini relevan dengan filosofi Tri Hita Karana dalam memuliakan alam. (BC18)

















