balibercerita.com –
Di sebuah bengkel truk yang bising di Denpasar, di antara bau oli, serbuk logam, dan tangan-tangan yang selalu kotor oleh mesin, perjalanan hidup seorang perempuan muda diam-diam ditempa. Di ruang kerja yang jauh dari kesan glamor itu, Ni Ketut Ratna Vitri Wijayanti, S.H., mulai merangkai ketangguhan yang kelak membawanya ke tempat yang sama sekali berbeda: ruang sidang, toga hitam, dan perjuangan untuk suara-suara yang selama ini terpinggirkan.
Sebelum namanya dikenal sebagai pengacara, Ratna bekerja sebagai mekanik truk di dealer HINO, Cahya Surya Indah, Jalan Cokroaminoto. Hari-harinya dipenuhi suara mesin yang meraung dan palu yang bertubrukan dengan logam.
Namun, bukan suara mesin yang paling membekas dalam hidupnya, melainkan sebuah pengalaman pahit saat ia harus berhadapan dengan masalah hukum tanpa tahu harus meminta bantuan ke mana. “Saya sempat menghadapi persoalan hukum dan kesulitan membela diri. Saat itu saya sadar betapa pentingnya pendamping hukum. Dari situlah muncul tekad untuk menjadi pengacara,” kenangnya, Minggu (7/12).
Pengalaman itu menjadi titik balik. Ratna memilih meninggalkan rutinitas bengkel dan melangkah ke dunia hukum, sebuah dunia yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan.
Setelah resmi menjadi advokat, Ratna seperti menemukan bagian dirinya yang hilang. “Hidup saya lebih bermakna. Saya bisa membantu diri sendiri dan orang lain yang membutuhkan,” ungkapnya.
Ia telah menangani berbagai perkara, dari pidana hingga perdata. Salah satu yang mencuat adalah sengketa hak waris yang berhasil ia selesaikan melalui pendekatan hukum yang penuh kesabaran dan komunikasi intens antarkeluarga. Perkara narkoba juga pernah ia tangani, sebuah jenis perkara yang membutuhkan ketelitian dan empati. “Semoga semua perkara yang saya ambil bisa berjalan baik dan memberikan keadilan bagi klien,” ujarnya.
Bagi Ratna, hukum bukan sekadar profesi, melainkan jalan pengabdian. Ia ingin menjadi pengacara yang hadir untuk masyarakat kecil yang sering tak mampu membayar jasa hukum. “Saya ingin membantu mereka yang terzalimi. Saya tidak ingin ada orang lain mengalami kesulitan seperti yang pernah saya alami,” tegasnya.
Perjalanan Ratna menuju profesi advokat penuh liku dan warna. Sebelum menjadi mekanik, ia aktif berorganisasi. Ia juga pernah bekerja sebagai security wanita di PT Nawakara, khusus menangani pengawalan uang, tugas yang menuntut keberanian dan kontrol diri.
Karakter kepeduliannya tumbuh subur ketika ia menjadi sopir relawan ambulans milik Partai Demokrat, mengantarkan jenazah menuju tempat peristirahatan terakhir. Pekerjaan itu membuatnya banyak berhadapan dengan keluarga yang kehilangan, mengajarkannya empati dan keteguhan. Semua pengalaman itu, bengkel, organisasi, keamanan, hingga kemanusiaan, membentuk Ratna menjadi pribadi yang tangguh, berani, dan tidak gentar menghadapi situasi sulit.
Kini, di balik toga yang ia kenakan, Ratna membawa seluruh kisah perjalanan panjangnya. Ia memilih berdiri sebagai pembela masyarakat kecil, mereka yang kerap tak punya suara di hadapan hukum. “Selama menjadi pengacara, saya akan terus berjuang membantu orang-orang yang kesulitan menghadapi masalah hukum,” tutupnya.
Dari bengkel truk yang panas dan bising hingga ruang sidang yang penuh ketegangan, perjalanan hidup Ratna menjadi bukti bahwa keadilan kadang lahir dari tempat-tempat yang tidak pernah diduga. Dalam perjalanan hidupnya yang berliku, Ratna juga ingin menghapus stigma yang kerap dilekatkan pada latar belakang keluarganya. Ia menegaskan bahwa tidak semua anak polisi hidup dimanjakan oleh kekuasaan dan uang.
Baginya, status keluarga bukan jaminan kenyamanan. Justru dari masa kecil hingga dewasa, ia tumbuh dengan didikan disiplin untuk berdiri di atas kaki sendiri tanpa bergantung pada jabatan orang tua. “Saya belajar keras sejak dulu bahwa hidup harus diperjuangkan, bukan diwariskan,” tutupnya. (BC5)



















