balibercerita.com –
Pura Taman Sari yang berlokasi di Kelurahan Kampung Baru, Buleleng, menyimpan cerita rakyat tentang kedatangan kapal pedagang asal Tiongkok di masa lampau. Keberadaan pura ini berawal dari peristiwa sebuah kapal yang terdampar di pinggir pantai hingga akhirnya menjadi cikal bakal berdirinya tempat suci.
Pemangku Pura Taman Sari, Jro Mangku Pande Wayan Sabda menjelaskan, konon kapal pedagang Tiongkok tersebut membawa muatan keramik. Lantaran kehabisan persediaan air bersih, awak kapal memutuskan bersandar. Mereka kemudian mencari air di dekat sebuah pohon juwet besar yang tumbuh di pinggir pantai. Setelah mendapatkan air, kapal itu justru tidak dapat kembali ke tengah laut.
Berbagai upaya dilakukan untuk mendorong kapal agar bisa berlayar kembali, termasuk meminta bantuan masyarakat Banyuning. Namun, usaha tersebut berulang kali mengalami kegagalan. Hingga pada upaya ketiga, pemilik kapal akhirnya menyampaikan kaul mendirikan tempat pemujaan berupa palinggih di lokasi tersebut.
Setelah kaul terucap, kapal akhirnya bisa kembali berlayar. Sebuah bangunan suci pun dibangun. Pemilihan lokasi bangunan suci berkaitan dengan keberadaan sebuah pohon juwet berukuran besar yang tumbuh di kawasan tersebut. Tempat pemujaan yang didirikan kemudian berkembang menjadi Pura Taman Sari.
Dalam perkembangannya, pura ini awalnya dikenal dengan nama Pura Grojogan. Pembangunannya mendapat dukungan masyarakat setempat serta sejumlah tokoh masyarakat.
Seiring berjalannya waktu, dilakukan sejumlah pengembangan terhadap kawasan pura. Perluasan fisik diantaranya melalui penambahan beton pada bagian kolam serta pelebaran akses jalan agar kawasan pura lebih tertata. Pengerjaan tersebut dilaksanakan secara gotong royong dengan melibatkan warga dan muda-mudi setempat.
Dalam proses renovasi, sempat muncul perbedaan pendapat terkait rencana pemugaran palinggih lama. Meski demikian, masyarakat akhirnya mencapai kesepakatan untuk membangun palinggih baru agar aktivitas persembahyangan berlangsung lebih nyaman, tanpa menghilangkan nilai historis yang telah melekat pada pura tersebut.
Selain memiliki kisah asal-usul yang berkaitan dengan kapal pedagang Tiongkok, Pura Taman Sari juga menyimpan dua buah keramik kuno yang menjadi peninggalan dari kapal tersebut. Kedua keramik simbol lanang-istri (laki-laki dan perempuan) itu memiliki perbedaan warna, yakni krem-hijau (istri) dan putih-krem (lanang). Pada keramik tersebut berisi aksara suci Ongkara.
Bukan benda biasa, keramik tersebut dipercaya mempunyai khasiat khusus, terutama yang berkaitan dengan sarana pengobatan spiritual. Keberadaannya menjadi salah satu peninggalan bersejarah yang masih tersimpan di pura tersebut.
Tidak hanya menjadi tempat pemujaan terhadap para dewa, Pura Taman Sari juga dimanfaatkan masyarakat sebagai tempat melaksanakan tradisi malukat atau penyucian diri. Prosesi malukat dipandu langsung oleh pemangku setempat. (BC13)














