Beranda Budaya Ogoh-ogoh Mini Jadi Media Kreativitas Yowana, Caka Mini Fest 2.0 Dibuka untuk...

Ogoh-ogoh Mini Jadi Media Kreativitas Yowana, Caka Mini Fest 2.0 Dibuka untuk Peserta se-Bali

0
Ogoh-ogoh
Yowana Kuta saat melaksanakan rapat di ruang rapat kecil Kecamatan Kuta. (ist)

balibercerita.com –
Inovasi dalam penciptaan ogoh-ogoh terus berkembang seiring kreativitas generasi muda Bali. Tidak lagi terbatas pada bentuk konvensional, karya ogoh-ogoh kini merambah eksplorasi tiga dimensi, penggunaan teknologi mekanis, hingga pengembangan narasi yang bersumber dari sastra dan mitologi.

Perkembangan inilah yang menjadi salah satu semangat penyelenggaraan Caka Mini Fest 2.0 di Kecamatan Kuta. Mengusung tema “CITTA KALA: Merawat Warisan Sastra, Mewujudkan Kreativitas, Meneguhkan Identitas Budaya”, festival ini dijadwalkan berlangsung pada Sabtu, 21 November 2026.

Kegiatan yang diprakarsai Pasikian Yowana Kecamatan Kuta di bawah naungan Majelis Desa Adat (MDA) Kecamatan Kuta tersebut membuka kesempatan bagi seniman dan generasi muda dari seluruh Bali untuk berpartisipasi.

Ketua Panitia Caka Mini Fest 2.0, I Made Kurniawan Putra Wibawa, mengatakan pendaftaran peserta telah dibuka sejak 25 Oktober dan akan ditutup pada 15 November 2026. Menurutnya, perkembangan ogoh-ogoh menunjukkan bahwa tradisi memiliki ruang untuk terus beradaptasi. Eksplorasi anatomi, konstruksi, cerita, koreografi, iringan baleganjur, hingga pemanfaatan teknologi mekanis menjadi bagian dari dinamika kreativitas yang dilakukan generasi muda.

Baca Juga:   Angkat Citra Endek Bali Melalui KTT G20 

Ogoh-ogoh mini tiga dimensi, misalnya, mulai banyak dikembangkan dengan mengangkat kisah pewayangan, mitologi, serta cerita yang bersumber dari khazanah sastra dan budaya lokal. Karya-karya tersebut tidak sekadar menampilkan keterampilan artistik, tetapi juga menjadi media untuk menerjemahkan warisan cerita ke dalam bentuk visual yang lebih kreatif.

“Di tengah pesatnya arus modernisasi, pelestarian budaya tidak cukup hanya dilakukan dengan mempertahankan tradisi yang telah diwariskan. Lebih dari itu, diperlukan keberanian untuk mengembangkan inovasi yang tetap berpijak pada nilai-nilai kearifan lokal. Dalam hal ini, generasi muda atau yowana memiliki peran strategis sebagai penerus sekaligus penggerak kebudayaan,” ungkapnya.

Baca Juga:   Dalam Hindu, Pemberian Nama Anak Pengaruhi Rejeki dan Jodoh

Semangat tersebut kemudian diterjemahkan melalui tiga kategori perlombaan yang dihadirkan dalam Caka Mini Fest 2.0, yakni Lomba Ogoh-ogoh Mini Mesin dan Nonmesin, Lomba Tapel Ogoh-ogoh, serta Lomba Sketsa Ogoh-ogoh.

Tidak hanya menjadi ajang untuk menunjukkan hasil karya, kompetisi ini juga diharapkan mendorong peserta memahami nilai filosofis di balik seni ogoh-ogoh. Dengan demikian, kreativitas yang lahir tidak berhenti pada aspek visual dan teknis, tetapi tetap memiliki keterkaitan dengan identitas budaya Bali.

Tema CITTA KALA sendiri memiliki makna filosofis yang merepresentasikan kesadaran manusia dalam memahami perubahan zaman. Citta berarti pikiran atau kesadaran, sedangkan Kala bermakna waktu. Perpaduan keduanya menjadi pengingat bahwa perkembangan kreativitas perlu berjalan seiring dengan kesadaran menjaga akar tradisi.

Baca Juga:   Hadiri Singgasana Seni Bung Karno, Anom Gumanti Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya

Melalui penyelenggaraan festival ini, panitia berharap terbangun ruang pertemuan bagi yowana, seniman, dan komunitas kreatif dari berbagai daerah di Bali. Kolaborasi tersebut diharapkan memperkuat keberlanjutan seni budaya sekaligus melahirkan generasi muda yang mampu merawat warisan tradisi melalui gagasan dan inovasi.

“Harapan kami, Caka Mini Fest 2.0 tidak berhenti sebagai kegiatan perlombaan semata, tetapi mampu menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas generasi muda. Melalui semangat CITTA KALA, kami ingin menunjukkan bahwa budaya tidak hanya diwariskan untuk dikenang, tetapi juga harus dirawat, dikembangkan, dan diteguhkan sebagai identitas bersama,” pungkasnya. (BC5)