Beranda Umum 24 Tahun Bom Bali, Penyintas di Ground Zero Serukan Perdamaian Dunia

24 Tahun Bom Bali, Penyintas di Ground Zero Serukan Perdamaian Dunia

0
Bom Bali
Suasana monumen Ground Zero jelang doa bersama lintas agama, Senin (12/10). (ist)

balibercerita.com –
Sejak pagi, karangan bunga memenuhi kawasan Monumen Ground Zero, Jalan Legian, Kuta, pada Senin (12/10). Satu per satu orang datang untuk berdoa dan menaburkan bunga di hadapan nama-nama korban yang terpatri di monumen tragedi kemanusiaan Bom Bali. Sejumlah wisatawan juga turut menaburkan bunga, menjadikan Ground Zero sebagai ruang pertemuan bagi mereka yang ingin mengenang sekaligus menyampaikan pesan kemanusiaan.

24 tahun setelah tragedi Bom Bali merenggut ratusan nyawa, ingatan tentang kehilangan masih terasa, sekaligus menjadi pengingat akan pentingnya perdamaian. Di antara mereka yang datang, tampak para penyintas yang tergabung dalam Yayasan Penyintas Indonesia-Bali. Mereka berkumpul untuk memberikan penghormatan kepada para korban yang tidak pernah kembali dari tragedi 12 Oktober 2002 tersebut.

Penasihat Yayasan Penyintas Indonesia-Bali, Haji Agus Bambang Priyanto mengatakan, peringatan 24 tahun Bom Bali menjadi momentum untuk kembali menyuarakan pentingnya perdamaian, tidak hanya bagi masyarakat Bali, tetapi juga dunia internasional. Menurutnya, konflik dan pertikaian yang masih terjadi di berbagai belahan dunia menunjukkan bahwa perdamaian merupakan sesuatu yang sangat berharga. Padahal, kehidupan masyarakat akan lebih stabil ketika setiap pihak mampu menjaga kedamaian dan tidak menjadikan kekerasan sebagai jalan keluar.

Baca Juga:   Transformasi Layanan dan Inovasi Digital Antarkan Bandara Ngurah Rai Raih Penghargaan Tertinggi Transportasi Udara

“Yang perlu kami sampaikan hanya satu hal, perdamaian. Kalau kita sudah damai, stabilitas dengan sendirinya akan tercipta. Apa pun yang kita kerjakan dan rencanakan akan berjalan dengan baik,” ujar Haji Bambang di Ground Zero.

Ia menilai, dampak konflik tidak hanya dirasakan oleh mereka yang berada di lokasi kejadian, tetapi juga dapat memengaruhi kehidupan banyak orang. Karena itu, peringatan Bom Bali menjadi kesempatan bagi para penyintas untuk mengingatkan masyarakat agar terus mengedepankan dialog dan kemanusiaan. “Perdamaian sekarang ini merupakan satu hal yang sangat mahal. Dari monumen ini, kami menyerukan secara luas kepada dunia internasional: perdamaian,” tegasnya.

Haji Bambang menyebutkan, sekitar 25 hingga 30 penyintas diperkirakan hadir dalam peringatan tahun ini. Jumlah tersebut lebih sedikit dibandingkan tahun sebelumnya yang dihadiri lebih dari 50 orang. Selain karena kesibukan, tidak semua penyintas dapat hadir secara langsung. Beberapa di antaranya mengirimkan anak-anak mereka untuk mengikuti kegiatan penghormatan.

Baca Juga:   Indonesia Tiga Tahun Berturut-turut Swasembada Beras

Di balik seruan perdamaian tersebut, ada pengalaman panjang yang harus dijalani para penyintas untuk kembali menata kehidupan. Salah satunya Arnol, mantan staf bartender di Sari Club yang selamat dari tragedi Bom Bali I. Arnol mengaku bersyukur masih diberi kesempatan hidup dan dapat kembali bertemu dengan rekan-rekan sesama penyintas setelah 24 tahun berlalu. Namun, tragedi tersebut meninggalkan perubahan besar dalam kehidupannya. Ia kehilangan sejumlah teman dan pekerjaan setelah peristiwa pengeboman.

Waktu memang terus berjalan, tetapi kenangan tentang orang-orang yang meninggal dunia tidak mudah dihapuskan. Arnol berusaha menerima pengalaman pahit tersebut secara perlahan, sembari melanjutkan kehidupannya. “Saya sangat bersyukur masih hidup dan bisa bertemu teman-teman sesama penyintas. Saya tidak akan pernah melupakan tragedi itu, tetapi saya mencoba melewatinya sedikit demi sedikit,” tuturnya.

Baca Juga:   Siswa SD se-Kecamatan Kuta Selatan Ikuti Parade Budaya Nusantara

Bagi Arnol, pertemuan dengan sesama penyintas menjadi pengingat bahwa kehidupan terus berlanjut, meski kehilangan akan selalu menjadi bagian dari perjalanan mereka. Ia pun mengajak masyarakat untuk menanamkan cinta kasih dan menjauhi kebencian yang hanya akan melahirkan penderitaan.

Pesan serupa disampaikan wisatawan asal Melbourne, Australia, Damian Asprey yang sengaja mengunjungi Ground Zero bersama rombongannya untuk memberikan penghormatan kepada para korban. Meski tidak memiliki keluarga atau teman yang menjadi korban langsung, ia menilai tragedi Bom Bali meninggalkan dampak besar, terutama bagi masyarakat Australia.

Damian mengatakan, kehilangan nyawa dan keluarga dalam tragedi tersebut merupakan pengalaman menyedihkan bagi banyak orang. Kunjungannya ke monumen menjadi cara untuk mengenang para korban sekaligus memahami kembali besarnya dampak kemanusiaan dari peristiwa tersebut. “Ini tentang bersatu, memulihkan diri, dan bergerak maju,” ujarnya. (BC5)