
Setelah menanti selama 48 tahun, ribuan krama dari enam desa adat di Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar, memadati kawasan Jalan Melati hingga Jalan Dr. Ir. Soekarno untuk mengikuti prosesi sakral Peed dan Nyenuk Ngingkup, Sabtu (3/10) sore. Ritual langka ini merupakan bagian utama dari rangkaian Karya Agung Ngenteg Linggih, Labuh Gentuh, Pecaruan Agung, hingga Mendem Pedagingan di Pura Agung Manukaya Let, yang menyusul puncak upacara pada Buda Kliwon Ugu, Rabu (30/9).
Prosesi diawali dengan iring-iringan peed berjalan kaki dari pelataran Istana Tampaksiring menuju Pura Agung Manukaya Let. Sebanyak 2.000 peserta yang bertugas dalam ketangoran dan kesenimanan tampil mengiringi ritual, dilengkapi sekitar 10 kelompok sekaa gong yang memainkan berbagai tabuh tradisional seperti adi mardangga, baleganjur, hingga gong suling.
Jika digabungkan dengan seluruh krama pangempon, total partisipasi masyarakat mencapai hampir 15.000 orang. Enam desa adat yang terlibat langsung dalam pergelaran agung ini meliputi Desa Adat Manukaya Let, Calo, Penempahan, Tegal Payang, Malet, dan Penyolasan Timbul.
Bendesa Adat Manukaya Let, I Made Mawi Arnata menjelaskan, prosesi Nyenuk Ngingkup memiliki kedalaman makna filosofis sebagai simbol penyatuan persembahan umat dari empat penjuru arah mata angin (selatan, barat, utara, dan timur) yang berkumpul di titik pusat Pura. “Upacara pada hari ini adalah upacara yang sangat bermakna sekali, yaitu upacara Nyenuk Ngingkup. Nyenuk ini artinya datang di tempat suci ini untuk mempersembahkan sesuatu kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa yang berstana di pura ini,” ujar I Made Mawi Arnata.
Mawi menambahkan, seluruh sarana yadnya yang dipersembahkan merupakan hasil karya murni masyarakat tanpa ada unsur komersialisasi. “Upacara yang dilaksanakan itu kita tidak pernah membeli yang namanya yadnya di pura ini. Segala sesuatu yang kami persembahkan adalah sangat original dan betul-betul hasil karya para masyarakat yang ada di desa adat ini. Kita harapkan ketulusan, betul-betul tatanan yadnya yang tidak omon-omon,” tegasnya.
Pelaksanaan ritual ini mengakhiri jeda panjang sejak terakhir kali digelar pada tahun 1978. Ke depan, pihak desa adat telah bersepakat menjadikan karya agung ini sebagai agenda berkala. “Ini mengawali, seyogianya acara ini harus ada setiap 30 tahun sekali. Kami nanti sebagai bendesa adat dan masyarakat sudah sepakat untuk melakukan upacara ini setiap 30 tahun sekali,” kata Mawi.
Secara historis, keberadaan ritual di Pura Agung Manukaya Let berkaitan erat dengan Pura Tirta Empul sebagai pusat peradaban kerajaan kuno era Dinasti Warmadewa. Dasar pelaksanaan karya ini merujuk pada prasasti batu bertulis yang terdapat di Pelinggih Pura Sakenan.
“Di sana diceritakan bagaimana Pura Tirta Empul dimasamahi (disucikan/diperbaiki) oleh Sri Candra Baya Singa Warmadewa pada 92 Masehi. Itu yang dimasamahi, diperbaiki oleh beliau, raja dari turunan Warmadewa,” ungkap Mawi.
Ia juga menjelaskan struktur kompleks pura yang menaungi tiga ruang lingkup utama yakni Palinggih Pura Anyar sebagai tempat stana Ida Bhatara Pura Tirta Empul yang dibangun di kompleks ini guna mengantisipasi aksesibilitas krama. Palinggih Pura Sakenan sebagai tempat penyimpanan prasasti batu bertulis. Pura Agung sebagai pusat pelaksanaan ritual adat desa.
Selain prosesi peed dan nyenuk, masyarakat Desa Adat Manukaya Let juga masih menjalankan sejumlah tradisi sakral yang diwariskan secara turun-temurun. Salah satu tradisi yang masih dipertahankan Desa Adat Manukaya Let adalah Tampiog atau Melabuh Geni.
Tradisi tersebut memiliki karakter khusus karena melibatkan peserta yang melakukan aksi di atas atau di sekitar gundukan bara api. Peserta tradisi ini berasal dari sejumlah unsur masyarakat, mulai dari pemangku, prajuru, undagi, hingga pemuda sekaa baris. “Mereka melakukan aksi menerjang dan menendang gundukan bara api dalam keadaan sadar,” ujarnya.
Tradisi ini menjadi salah satu bentuk ritual sakral yang masih dijalankan oleh masyarakat Desa Adat Manukaya Let. Ritual tersebut dimaknai sebagai simbol penyucian bhuana alit sekaligus ungkapan rasa syukur. Tradisi tersebut menjadi bagian dari kekayaan ritual yang masih dijaga di lingkungan desa adat.
Sementara itu, Kepala Dinas Kebudayaan Kabupaten Gianyar yang juga tokoh masyarakat Manukaya Let, I Wayan Adi Parbawa menyambut positif kebangkitan tradisi yang telah lama tidak direvitalisasi ini. “Momen saat ini merupakan bagian dari ikhtiar kita untuk menggali, merawat, dan membangkitkan milenial tradisi yang setelah sekian lama tidak direvitalisasi. Semoga karya agung ini menjadi sesuatu yang memitigasi kita dari gempuran perkembangan zaman melalui balutan seni budaya,” tutur Adi Parbawa.
Pemerintah Kabupaten Gianyar mengapresiasi kekompakan gabungan desa pangempon Pura Tirta Empul seperti Manukaya Kelod, Penempaan, Maler, Calo, Timur, Tegal Payang, hingga desa pengabih seperti Bayad, Kedisan, dan sekitarnya. Pelaksanaan ritual Nyenuk Ingkel Agung menampilkan beragam kesenian tradisi sakral, seperti Rejang Uni dan Rejang Lemi, Baris Gede Uni, gebogan-gebogan, demung-demung tameng, premas-premas tapakan Ida Batara, kesenian Ketangoran dan sekaa tradisi lainnya.
Adi Parbawa berharap keterlibatan masyarakat luas dan generasi muda di Tampaksiring ini dapat memperkuat benteng budaya Bali. ”Mari kita bersama-sama merawat nilai tradisi ini. Harapannya, generasi muda dapat menjadikan benteng seni dan budaya ini sebagai sarana memitigasi gempuran perkembangan zaman,” pungkasnya. (BC18)












