Beranda Kesehatan Tren Beauty and Wellness Terus Berkembang, Masyarakat Diminta Kritis Sebelum Pilih Perawatan

Tren Beauty and Wellness Terus Berkembang, Masyarakat Diminta Kritis Sebelum Pilih Perawatan

0
Beauty and Wellness
Sesi Yoga Sunrise Road to Beautiverse 2026. (BC5)

balibercerita.com – 

Tren beauty and wellness di Bali terus berkembang. Beragam produk kecantikan, treatment, yoga, pilates hingga aktivitas berbasis kesehatan mental semakin mudah ditemukan. Namun, di tengah derasnya tren dan informasi media sosial, masyarakat justru dituntut lebih kritis sebelum memilih produk maupun perawatan.

 

Dermatologist, Lifestyle Enthusiast & Founder Shyne Clinic, dr. Tary Mantra, Sp.DVE., mengingatkan masyarakat agar tidak mudah mencoba produk atau treatment yang sedang viral. Aspek keamanan, bukti ilmiah dan legalitas produk perlu menjadi pertimbangan utama. 

 

“Yang perlu kita perhatikan mungkin nomor satu adalah keamanannya. Apakah produk atau treatment tersebut sudah sesuai dengan evidence-based, berbasis ilmiah, dan juga sudah terdaftar atau BPOM,” ujar dr. Tary dalam rangkaian The Road to Beautiverse di The Meru Sanur pada Sabtu (26/9).

 

Menurutnya, perkembangan ekosistem beauty dan wellness di Bali sudah cukup baik. Namun, pemahaman masyarakat masih perlu terus diperkuat agar tidak hanya menjadi konsumen yang mengikuti tren, tetapi mampu menentukan pilihan berdasarkan kebutuhan masing-masing. Sebab, satu produk atau treatment belum tentu cocok untuk semua orang. “Personalization is very important,” tegasnya.

Baca Juga:   ProstFest Bakal Kembali Digelar di Bali

 

Dr. Tary juga melihat meningkatnya tren wellness di Bali, mulai dari yoga, pilates hingga aktivitas yang dilakukan di tengah alam. Baginya, wellness bukan sekadar aktivitas pelengkap, melainkan bagian penting yang mendukung beauty.

 

Perawatan dari luar seperti skincare dan treatment memang tetap diperlukan. Namun, kondisi tubuh dan pikiran juga tidak bisa diabaikan. Karena itu, ia menilai inner beauty dan outer beauty harus berjalan bersama. 

 

“Beauty itu memang nggak bisa berdiri sendiri. Produk, treatment itu penting, tapi internal juga penting. Bagaimana kita mengelola stres, mengelola rasa di dalam, itu wellness yang akan menciptakan cahayanya sendiri untuk beauty,” jelasnya.

 

Pandangan tersebut sejalan dengan Beautiverse Wellness Partner, Yulia Baltschun. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terlalu fokus pada perawatan eksternal, tetapi melupakan kebutuhan dasar tubuh.

Baca Juga:   Smart Stay di Legian, Solusi Liburan di Bali yang Simpel dan Bernilai

 

Menurut Yulia, tidur yang cukup, pemulihan tubuh, nutrisi dan olahraga justru merupakan fondasi yang seharusnya tidak ditempatkan sebagai prioritas kedua. “Jangan sampai kebalik. Banyak perempuan sangat high effort untuk eksternalnya, tapi yang primary seperti sleep, recovery, nutrition, fitness, itu di-secondary-kan. Akhirnya kurang optimum,” ujarnya.

 

Menurutnya, perawatan dari luar dan kebutuhan dari dalam harus dijalankan secara beriringan. “Dua-duanya harus dijalankan, tapi sinergis,” imbuhnya.

 

Yulia mengatakan pengertian wellness kini juga mengalami perluasan. Jika sebelumnya lebih banyak dikaitkan dengan kesehatan fisik, kebugaran dan nutrisi, saat ini aspek kesehatan mental, spiritual dan sosial semakin mendapat perhatian.

 

Berbagai aktivitas seperti sound healing, komunitas, pengelolaan emosi hingga proses penyembuhan trauma mulai masuk dalam spektrum wellness. “Wellness itu mencakup physical, spiritual, mental, dan juga social. Kalau ada yang kurang dari salah satu itu, wellness-nya agak timpang,” katanya.

Baca Juga:   Konser 42th Slank di Sanur Galang Dana Bencana Sumatra, Tiket Disumbangkan 100 Persen

 

Perubahan tersebut menunjukkan bahwa wellness tidak lagi hanya berbicara mengenai olahraga atau menjaga kondisi fisik. Ada kebutuhan untuk menjaga keseimbangan berbagai aspek kehidupan.

 

Yulia juga melihat perubahan cara pandang masyarakat terhadap wellness. Dahulu, aktivitas tersebut kerap dianggap sebagai gaya hidup yang identik dengan kalangan tertentu yang memiliki kemampuan finansial lebih. 

 

Namun, bertambahnya pengetahuan membuat masyarakat mulai memahami bahwa wellness dapat dilakukan secara sederhana dan disesuaikan dengan kondisi masing-masing. “Dulu banyak dari kita nggak sadar kalau kita butuh. Menganggap itu lifestyle yang dimiliki orang-orang yang punya privilege. Sekarang knowledge kita sudah bertambah, akhirnya kita sadar, oh itu bukan masalah privilege,” tuturnya.

 

Menurut Yulia, aktivitas wellness tidak harus dilakukan di tempat mewah atau dengan fasilitas mahal. “Kalau kita nggak bisa yoga di atas boat, kan bisa yoga di rumput,” ujarnya. (BC5)