RS Kasih Ibu Kedonganan Layani 20 Persen Pasien Asing, Siapkan Tim Multibahasa di Kawasan Wisata

0
1
RS Kasih Ibu Kedonganan
dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi. (BC5)

balibercerita.com –
Keberadaan fasilitas kesehatan di kawasan pariwisata menjadi elemen penting dalam mendukung kenyamanan wisatawan. Hal ini turut menjadi perhatian RS Kasih Ibu Kedonganan yang terus memperkuat layanan bagi pasien mancanegara. Dengan strategi tersebut, RS Kasih Ibu Kedonganan tidak hanya berperan sebagai fasilitas kesehatan, tetapi juga menjadi bagian dari ekosistem pendukung pariwisata yang aman dan nyaman di Bali.

Direktur RS Kasih Ibu Kedonganan, dr. Ni Putu Ayu Utari Laksmi mengungkapkan bahwa pasien asing menyumbang sekitar 15–20 persen dari total kunjungan. Angka ini mencerminkan tingginya kebutuhan layanan kesehatan di wilayah destinasi wisata.

Baca Juga:   Edukasi Diabetes Inovatif di Denpasar, Baku Gandeng Ahli Internasional dan Komunitas Lokal

Menurutnya, posisi rumah sakit yang berada di kawasan strategis pariwisata membuat kunjungan pasien asing menjadi hal yang tidak terpisahkan dari operasional layanan sehari-hari. “Kami melihat kehadiran pasien asing sebagai bagian dari dinamika kawasan wisata. Karena itu, pelayanan yang kami berikan harus mampu menjawab kebutuhan mereka tanpa mengurangi kualitas untuk pasien lokal,” ujarnya, Senin (20/4).

Baca Juga:   Pemkab Tabanan Terima Bantuan Ambulans CSR BPD Bali untuk RSUD Singasana

Ia menegaskan, tidak ada perbedaan standar pelayanan antara pasien lokal dan mancanegara. Seluruh pasien mendapatkan akses fasilitas, tenaga medis, serta alur pelayanan yang sama.

Namun, untuk meningkatkan kenyamanan, rumah sakit melakukan penyesuaian dari sisi komunikasi. RS Kasih Ibu Kedonganan menyiapkan tim khusus yang memiliki kemampuan bahasa asing, termasuk bahasa Inggris, Rusia, dan Jepang.

Baca Juga:   Kasus DBD di Tabanan Fluktuatif, Warga Diminta Aktif Lakukan PSN

Langkah ini diambil karena tidak semua wisatawan asing menggunakan bahasa Inggris secara aktif sehingga pendekatan komunikasi yang lebih spesifik dinilai penting dalam pelayanan medis. “Pendekatannya lebih ke komunikasi. Kami pastikan pasien bisa memahami kondisi dan tindakan medis yang diberikan dengan baik,” jelasnya. (BC5)