Beranda Umum Doa Lintas Agama di Ground Zero, Badung Teguhkan Komitmen Merawat Perdamaian

Doa Lintas Agama di Ground Zero, Badung Teguhkan Komitmen Merawat Perdamaian

0
Ground Zero
Doa bersama mengenang tragedi kemanusiaan Bom Bali. (BC5)

balibercerita.com –
Monumen Panca Benua atau yang lebih dikenal sebagai Ground Zero, Kuta, kembali dipadati masyarakat dan wisatawan pada Senin (12/10) sore. Mereka berkumpul untuk mengikuti doa bersama lintas agama dalam rangka mengenang 24 tahun tragedi kemanusiaan Bom Bali.

Mengusung tema “Merawat Perdamaian, Mewariskan Harapan untuk Generasi Masa Depan”, peringatan ini menjadi momentum untuk mengenang para korban sekaligus meneguhkan komitmen menjaga kerukunan dan perdamaian. Selain doa bersama dan tabur bunga, peringatan tahun ini juga diwarnai pertunjukan seni. Tari Meraga Kuta yang dibawakan Sanggar Seni Gita Swara Kuta serta tari baris menjadi bagian dari rangkaian acara yang sarat makna penghormatan dan persaudaraan.

Kegiatan tersebut dihadiri perwakilan Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT), Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK), Bupati Badung yang diwakili Asisten III Bidang Administrasi Umum, Wayan Wijana, Kepala Dinas Pariwisata Badung, AA Putri Mas Agung, Kepala Dinas Kebudayaan Badung, I Gede Sukadana, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik Badung, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa, Kepala Dinas Perhubungan Badung, AA Gde Rahmadi, Camat Kuta, Made Agus Suantara, serta anggota DPD RI, Shri I Gusti Ngurah Arya Wedakarna. Hadir pula perwakilan konsulat negara sahabat, jajaran Kelurahan Kuta, Ketua LPM Kuta, Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Badung, Desa Adat Kuta, Yayasan Isana Dewata, tokoh masyarakat, serta keluarga korban.

Baca Juga:   Dimusnahkan, Ribuan Barang Impor Ilegal Bernilai Ratusan Juta 

Dalam sambutan Bupati Badung yang dibacakan Wayan Wijana, disampaikan bahwa tragedi Bom Bali pada 12 Oktober 2002 dan peristiwa bom berikutnya pada 1 Oktober 2005 meninggalkan luka mendalam tidak hanya bagi Bali dan Indonesia, tetapi juga masyarakat dunia. Ratusan orang kehilangan nyawa, sementara keluarga dan orang-orang terdekat harus menghadapi duka yang berkepanjangan.

“Dua peristiwa itu telah meninggalkan luka yang mendalam, tidak hanya bagi Bali, tidak hanya bagi Indonesia, tetapi bagi dunia. Ratusan jiwa yang tidak berdosa telah menjadi korban. Kita kehilangan saudara, kehilangan sahabat, dan keluarga,” ujarnya.

Menurutnya, peringatan tersebut bukan sekadar mengenang kembali tragedi, melainkan juga menjadi ruang untuk mendoakan para korban, meneguhkan komitmen kebangsaan, serta merawat kerukunan dan perdamaian dunia.

Baca Juga:   Patung Penari Bali Akan Hiasi Jalan Tol Bali Mandara

Pemerintah Kabupaten Badung, lanjutnya, juga tengah membangun Museum Perdamaian Bali sebagai bentuk penghormatan terhadap para korban sekaligus sarana mewariskan nilai-nilai perdamaian kepada generasi mendatang. Pembangunan museum tersebut diharapkan dapat diselesaikan tahun ini. Ia menegaskan, tragedi Bom Bali menjadi pengingat bahwa terorisme, radikalisme, dan intoleransi merupakan ancaman bersama bagi kemanusiaan. Karena itu, perbedaan keyakinan dan latar belakang harus dirawat sebagai kekuatan untuk membangun kehidupan yang harmonis.

Dengan berpegang pada filosofi Tri Hita Karana dan nilai vasudhaiva kutumbakam yang memandang seluruh umat manusia sebagai satu keluarga, masyarakat Bali diharapkan terus memperkuat persaudaraan tanpa membedakan agama maupun golongan. “Dari Bali, dari Badung, kita ingin menyampaikan pesan kepada dunia, Bali aman, Bali damai, Bali terbuka untuk kita semua. Kita tolak segala bentuk kebencian, kita jaga Bali sebagai rumah besar bagi semua umat beragama,” tegasnya.

Dalam kesempatan tersebut, masyarakat juga diajak memperkuat peran desa adat, pecalang, dan FKUB sebagai garda terdepan dalam menjaga kerukunan di tingkat lingkungan. Pendidikan toleransi dan cinta kasih kepada generasi muda dinilai penting agar tragedi serupa tidak terulang, sekaligus menjaga pariwisata Bali tetap berlandaskan budaya, keamanan, dan nilai-nilai kemanusiaan.

Baca Juga:   Puluhan Negara Ikuti Asian Senior Fencing Championship 2025

Selaku Ketua Panitia, Kepala Badan Kesbangpol Badung, Ida Bagus Putu Mas Arimbawa menyampaikan, doa bersama ini hadir bukan sekadar untuk mengenang para korban, melainkan sebagai wadah untuk memperkuat komitmen bersama dalam menjaga perdamaian dunia dan mempererat tali kebangsaan antarumat beragama. Ia menjelaskan, kegiatan doa bersama lintas agama ini bertujuan mendoakan para korban agar mendapat tempat terbaik di sisi Tuhan Yang Maha Esa sekaligus memberikan penguatan moral bagi keluarga yang ditinggalkan.

Kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi dan konsolidasi enam agama yakni Hindu, Islam, Kristen, Katolik, Buddha, dan Konghucu, guna memperkokoh persatuan serta kerukunan di tengah masyarakat. Acara diisi renungan, doa dari enam pemuka agama, penyalaan lilin perdamaian, dan tabur bunga. (BC5)