Beranda Umum Bali Masih Gerah hingga Akhir November, Ini Penyebabnya

Bali Masih Gerah hingga Akhir November, Ini Penyebabnya

0
Bali gerah
Panas yang membuat rumput mengering. (BC5)

balibercerita.com –
Masyarakat Bali masih harus bersabar menghadapi cuaca panas dan gerah. Kondisi ini diperkirakan bertahan hingga beberapa minggu ke depan, seiring belum meratanya awal musim hujan di Pulau Dewata.

Meski suhu udara masih berada di kisaran normal, kombinasi radiasi matahari yang tinggi, minimnya awan, dan pola angin yang melambat membuat panas terasa lebih menyengat. Prakirawan Cuaca Balai Besar Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BBMKG) Wilayah III Denpasar, Brian Eko Permadi mengungkapkan, suhu udara di stasiun pengamatan Denpasar dan Badung berkisar 24 sampai 34 derajat Celsius.

Sementara itu, suhu normal pada periode yang sama berada di rentang 24 hingga 33 derajat Celsius. “Untuk kondisi normalnya sendiri pada periode bulan yang sama, suhu rata-rata berkisar antara 24–33 derajat Celsius,” ungkapnya saat dikonfirmasi, Senin (19/10).

Baca Juga:   Anggota DPRD Badung Jalani Tes Urine Sebelum Rapat Paripurna, Ada Apa?

Menurut Brian, panas yang dirasakan masyarakat tidak hanya berkaitan dengan suhu udara. Posisi matahari yang kini berada di belahan bumi selatan (BBS) turut meningkatkan intensitas radiasi matahari yang diterima wilayah Bali. Minimnya tutupan awan juga membuat sinar matahari lebih leluasa mencapai permukaan bumi sejak pagi hingga sore hari.

Situasi semakin terasa gerah karena pola sirkulasi angin pada masa peralihan dari musim kemarau menuju musim hujan cenderung melambat dan berfluktuasi. Kondisi tersebut menyebabkan panas yang tersimpan di daratan lebih lambat terurai.

Baca Juga:   Wakil Ketua I DPRD Badung Hadiri Gelar Pasukan Operasi Ketupat Agung 2026

Cuaca panas ini pun diperkirakan belum segera berakhir. BBMKG memprakirakan awal musim hujan di wilayah Bali bagian tengah baru terjadi pada November dasarian III atau periode 21–30 November 2026. Dengan demikian, masyarakat masih perlu mengantisipasi kondisi panas selama masa peralihan musim berlangsung.

Meski begitu, bukan berarti Bali sepenuhnya tanpa peluang hujan. Brian menyebut hujan dengan intensitas ringan masih berpotensi terjadi di wilayah Bali bagian tengah dalam beberapa hari ke depan. Namun, peluang hujan tersebut belum menunjukkan bahwa musim hujan telah dimulai secara merata.

Sementara itu, terkait kemungkinan pengaruh El Nino terhadap kondisi panas saat ini, Brian menyatakan indeks El Nino-Southern Oscillation (ENSO) berada pada nilai yang tidak signifikan. Karena itu, fenomena tersebut tidak berpengaruh terhadap kondisi cuaca yang sedang dirasakan di Bali.

Baca Juga:   Bupati Adi Arnawa Buka Sosialisasi Penguatan Integritas, Budaya Antikorupsi, dan Pengendalian Gratifikasi

Menghadapi cuaca panas, masyarakat diimbau menjaga kecukupan cairan tubuh dan membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama pada siang hari. Penggunaan tabir surya serta pakaian yang menyerap keringat juga dianjurkan untuk mengurangi dampak paparan sinar matahari.

Selain itu, kewaspadaan terhadap kebakaran lahan perlu ditingkatkan di tengah kondisi kering. “Masyarakat kami minta tidak membakar sampah sembarangan maupun membuang puntung rokok di kawasan lahan kering dan semak belukar yang mudah terbakar,” imbuhnya. (BC5)