balibercerita.com –
Persoalan air bersih di sejumlah wilayah Kuta Selatan belum sepenuhnya teratasi. Di tengah kemarau panjang, pelanggan Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung harus menghadapi penggiliran air yang durasinya mencapai empat hingga enam hari.
Kondisi tersebut terjadi karena sumber air baku di Waduk Muara terus menyusut. Dari kondisi normal sekitar 130 centimeter, elevasi air kini hanya tersisa sekitar 60 centimeter. Bahkan, angka tersebut turun dari sebelumnya yang masih mencapai 80 centimeter.
Direktur Teknik Perumda Air Minum Tirta Mangutama Badung, I Made Suarsa mengatakan, penurunan elevasi air baku tersebut berpengaruh langsung terhadap jumlah air yang dapat diolah menjadi air bersih. “Penurunan ini akibat kemarau panjang sehingga sumber air baku mengalami penyusutan. Kondisi ini berdampak terhadap jumlah air yang dapat diolah dan mengakibatkan penurunan produksi air bersih,” ujar Suarsa.
Kondisi tahun ini disebut lebih parah dibandingkan musim kemarau tahun sebelumnya. Pada periode yang sama tahun lalu, elevasi Waduk Muara masih berada pada kisaran 90–100 centimeter. Saat ini, penyusutan bahkan membuat bagian dasar waduk mulai terlihat dan ditumbuhi rumput.
Gangguan pelayanan tersebut ditegaskan bukan disebabkan oleh kerusakan pompa. Perumda sebelumnya telah menyelesaikan perbaikan pompa berkapasitas 800 kilowatt (kW) di sistem 4 estuary pada Rabu (30/9). Pompa tersebut kini telah kembali beroperasi dan pengaliran dari sistem itu sudah normal.
“Pompa sudah kembali beroperasi dan pengaliran dari sistem 4 estuary sudah normal. Hanya saja, sumber air baku kita mengalami penurunan debit sehingga produksi air belum bisa normal seperti biasanya,” jelasnya.
Akibat keterbatasan pasokan, penggiliran air masih diterapkan di sejumlah wilayah Kuta Selatan. Wilayah terdampak dibagi menjadi dua kelompok.
Kelompok pertama meliputi Goa Gong, Bukit Pratama, Jalan Merak, Griya Tapak Gong, Satika Permai, dan sekitarnya. Sementara, kelompok kedua mencakup Melang Kaja, Mundeh, Gunung Payung, Melang Kelod, Jalan Tukad Selatan, Pantai Pandawa, Jalan Kapur Putih, hingga Pecatu dan sekitarnya.
Khusus kawasan Pecatu, pengaliran air juga masih belum optimal. Penggiliran diperkirakan berlangsung empat hingga enam hari dan akan terus diberlakukan selama debit air baku belum mencukupi kebutuhan produksi.
Suarsa menyebut kondisi tersebut masih berpotensi memburuk apabila kemarau terus berlangsung. Sebab, ketersediaan air baku sangat bergantung pada faktor alam dan curah hujan.
Untuk mengurangi dampak gangguan, perumda mengoptimalkan sumber air yang tersedia, termasuk memanfaatkan aliran kanal yang sebelumnya telah dimampatkan. Namun, upaya tersebut belum mampu sepenuhnya menutup penurunan debit air baku di Waduk Muara.
Penanganan sedimentasi di waduk muara tetap dilakukan oleh Balai Wilayah Sungai (BWS) Bali-Penida. Sementara, perumda berupaya memaksimalkan air yang tersedia agar produksi air bersih tetap berjalan.
Distribusi air menggunakan armada tangki dan penyediaan tandon juga dilakukan untuk wilayah yang mengalami gangguan. Namun, luasnya wilayah terdampak dan keterbatasan armada membuat distribusi belum dapat menjangkau seluruh pelanggan secara bersamaan.
“Kami sudah berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada pelanggan, termasuk melalui pengiriman air tangki. Namun, luasnya wilayah terdampak dan keterbatasan armada membuat pelayanan air tangki belum bisa menjangkau seluruh keluhan secara bersamaan,” ungkap Suarsa.
Ia berharap masyarakat memahami kondisi keterbatasan air baku yang terjadi. Selain penanganan jangka pendek, penambahan sumber air baku juga disiapkan untuk memperkuat pelayanan dan mengantisipasi persoalan serupa di tengah kondisi kemarau. (BC5)
















