Makna dan Cerita Patung GWK

0
14
GWK
Patung Garuda Wisnu Kencana. (ist)

Mangupura, balibercerita.com – 

Keberadaan patung Garuda Wisnu Kencana di wilayah Desa Ungasan, Kuta Selatan, ternyata sarat makna dan filosofi. Patung tertinggi nomor 4 di dunia ini memiliki nilai-nilai keteladanan tentang kehidupan yang mengakar dari mitologi Hindu. Ada 2 sosok yang ditonjolkan dalam satu kesatuan patung ini, yaitu Garuda dan Dewa Wisnu. Patung GWK dianggap sebagai simbol dari misi penyelamatan lingkungan dan dunia.

Garuda dalam sosok ini digambarkan sebagai makhluk super kuat, dengan wujud setengah manusia dan setengah burung. Ia merupakan anak kedua dari Dewi Winata bersama Rsi Kesyapa. Garuda memiliki filosofi perjuangan melawan penindasan, perbudakan, penjajahan. Ia berjuang untuk membebaskan ibunya dari perbudakan ibu tirinya yaitu Dewi Kadru bersama anak-anaknya yang berupa naga. Garuda dan para naga sendiri lahir dari pemberian telur dari Rsi Kesyapa yang dikenal sakti mandraguna.

Saat itu Dewi Winata dijebak menebak menebak warna kuda Uchaisrawa. Semula kuda itu berwarna putih, namun karena ulah si naga maka kuda itu menjadi berwarna hitam. Syarat penghapusan perbudakan itu adalah dengan mengambil Tirta Amertha dari tangan para dewata.

Baca Juga:   GWK Kembali Aktifkan Garuda Sineloka 

Akhirnya ia kemudian bertemu dengan Dewa Wisnu dan menceritakan perbudakan ibu sang Garuda. Kendati hal itu membuat Dewa Wisnu bersimpati dengan perjuangan dan bakti sang Garuda, namun tirta itu tidak bisa diberikan ke sembarang orang dikarenakan khasiatnya yang dapat membuat orang yang meminumnya panjang umur hidup abadi. Atas saran dari Dewa Wisnu, sang Garuda kemudian diberikan sedikit Tirta Amertha yang diwadahi kendi Kamandalu.

Ia kemudian diminta untuk menjadi wahana dari Dewa Wisnu, ketika ibunya berhasil dibebaskan. Ia kemudian menyanggupi ajakan Dewa Wisnu untuk menebar kebaikan kepada seluruh umat manusia. Setelah Tirta Amerta itu diberikan, Garuda kemudian membawanya sebagai penukar pembebasan ibunya. 

Mengingat pentingnya tirta itu agar tidak jatuh kepada orang yang salah, Garuda kemudian memberikannya kepada sang naga dengan cara melemparnya. Tirta Amerta itu jatuh dan tumpah ke padang ilalang, sehingga membuat para naga menjilati ilalang hingga membuat lidah mereka terbelah menjadi 2.

Baca Juga:   Candi Cetho, Candi Hindu di Atas Awan

Hal itu kemudian berkembang menjadi kepercayaan bahwa pada ilalang menjadi tanaman yang disucikan dan fungsinya sangat penting bagi kehidupan masyarakat Hindu. Sedangkan keturunan naga bermetamorfosis menjadi ular dengan lidah terbelah.

Karena itu, rampungnya pembangunan patung GWK dihadiahkan kepada bangsa serangkaian moment kemerdekaan perjuangan bangsa melawan penjajahan. Garuda Wisnu Kencana merujuk kepada patung Dewa Wisnu dengan mahkota emas dan menunggangi burung Garuda. Pada mitologi Hindu, Dewa Wisnu dipercaya sebagai penjaga alam semesta (sthiti). Sedangkan burung Garuda lambang kesetiaan dan pengabdian tanpa pamrih dan sebagai lambang negara Indonesia. Kemudian, kencana artinya emas, yakni layaknya mahkota asli yang digunakan Dewa Wisnu.

Semula patung GWK dikirim terpisah beberapa bagian. Ada yang berupa badan, tangan dan kepala Garuda. Seiring dengan perkembangan situasi dan image yang melekat di area GWK Cultural Park, bagian-bagian itu tidak disatukan ke dalam tubuh patung yang berdiri saat ini (patung dibuat baru). “Dulu bagian patung GWK ini terpisah. Sekarang seluruhnya sudah terbentuk, tapi yang lama tetap kita biarkan karena sudah menjadi ikon tiap kawasan. Jadi patung yang disusun ini dibuat baru,” ujar Corporate Communication Division Head Alam Sutra Grup, Rossie Andriani.

Baca Juga:   Peringatan Tragedi Kemanusiaan Bom Bali Diisi Doa Lintas Agama dan Pentas Budaya

Untuk membangun kembali patung GWK, Alam Sutra Grup secara khusus mendatangkan konsultan dari Jepang dan Kanada. Sebab, GWK dibangun bukan hanya pada aspek seni, melainkan ketahanan bahan dan situasi kawasan. Patung GWK merupakan perpaduan seni, science and technology. “Patung GWK sudah diuji ketahanannya untuk 100 tahun mendatang. Itu sudah dihitung, baik dari angin, kekuatan bahan maupun lebarnya,” imbuhnya. (BC5)

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini