balibercerita.com –
Citra Bali sebagai surga wisata dunia menyimpan sisi lain yang jarang disorot, mulai dari eksotisasi perempuan hingga alih fungsi lahan yang mengubah ruang hidup masyarakat lokal. Persoalan tersebut diangkat seniman Luh De Gita melalui lukisan dua sisi dalam pameran Women Artists of Asia-Pacific: Nostalgia = Transendensi di Museum Pasifika, Nusa Dua, pada 9 Oktober–9 Desember 2026.
Melalui karya yang dilengkapi rantai tersebut, Luh De Gita menyandingkan sejarah pembentukan citra Bali di mata dunia dengan realitas pariwisata masa kini. Karya ini menjadi medium untuk mengkritisi overtourism atau pariwisata berlebihan dan gentrifikasi, sekaligus mempertanyakan cara perempuan Bali dan tradisi sakralnya ditampilkan sebagai daya tarik bagi wisatawan.
Salah satu elemen yang diangkat adalah sosok penari Sang Hyang Dedari, tarian sakral yang sempat tidak dipentaskan selama hampir 30 tahun sebelum kembali ditampilkan pada 2024 di kawasan kaki Gunung Agung. Dalam tradisi tersebut, anak-anak perempuan yang belum mengalami pubertas menjadi penari dalam kondisi yang dipercaya dirasuki roh leluhur.
Bagi Luh De Gita, representasi penari tersebut tidak bisa dilepaskan dari nilai spiritual dan budaya yang menyertainya. Ia menyoroti kecenderungan tubuh perempuan Bali dijadikan simbol eksotisme dan gambaran tentang keindahan pulau ini, sementara makna sakral di balik tradisi tersebut berisiko terpinggirkan.
“Saya ingin mengangkat bagaimana tubuh perempuan menjadi citra surga atau gambaran tentang Bali. Sebagai perempuan yang hidup di dunia modern dan kontemporer, saya merasa cara kita memandang perempuan perlu diperbarui,” ujarnya.
Ia mengaku menemukan kecenderungan penggambaran perempuan Bali melalui tubuh yang terbuka maupun sosok penari dalam sejumlah karya seniman asing yang pernah dilihatnya. Menurutnya, cara pandang tersebut perlu dibaca secara kritis agar perempuan dan tradisi Bali tidak berhenti sebagai objek visual yang eksotis, tetapi tetap dipahami dalam konteks sejarah, kebudayaan, dan spiritualitasnya.
Perspektif sejarah turut dihadirkan melalui arsip dari Horniman Museum di London yang berkaitan dengan kunjungan Ratu Elizabeth ke Desa Batubulan. Temuan itu menjadi salah satu pijakan Luh De Gita dalam menelusuri bagaimana Bali diperkenalkan kepada dunia dan berkembang menjadi ikon pariwisata internasional.
Menurutnya, pembentukan citra Bali telah berlangsung sejak masa kolonial Belanda. Representasi tentang masyarakat dan kebudayaan Bali pada masa lalu ikut memengaruhi cara dunia luar memandang pulau ini hingga sekarang.
Namun, kritik Luh De Gita tidak berhenti pada persoalan citra. Pada sisi lain lukisannya, ia menggambarkan realitas masyarakat Bali saat ini, ketika tekanan industri pariwisata turut berkaitan dengan perubahan fungsi lahan. Sawah yang sebelumnya menjadi bagian dari ruang hidup masyarakat beralih menjadi vila dan kafe untuk memenuhi kebutuhan wisatawan.
“Ini seperti dua sisi mata uang. Kita melihat realitas hari ini, ketika lahan dijual dan sawah berubah menjadi vila serta kafe untuk wisatawan,” tuturnya.
Lukisan dua sisi tersebut merupakan salah satu karya dari pameran kelulusannya saat menempuh pendidikan di Royal College of Art. Melalui pendekatan visual yang menyandingkan masa lalu dan masa kini, ia menghadirkan pertanyaan mengenai hubungan antara sejarah, pariwisata, dan keberlanjutan kehidupan masyarakat Bali.
Bagi Luh De Gita, perkembangan pariwisata juga perlu dibaca dari sudut pandang masyarakat yang hidup di dalamnya. Persoalannya bukan hanya bagaimana Bali dipromosikan kepada dunia, tetapi juga bagaimana perempuan, tradisi sakral, dan ruang hidup masyarakat ditempatkan di tengah perubahan yang berlangsung. (BC5)















