balibercerita.com –
Gubernur Bali, Wayan Koster menegaskan bahwa keberlanjutan dan kualitas pariwisata Bali tidak hanya diukur dari lonjakan jumlah kunjungan wisatawan, melainkan dari ekosistem usaha yang adil serta kesiapan daerah dalam mengatasi persoalan lingkungan dan energi.
Teguran dan arahan strategis tersebut disampaikan Koster saat membuka Musyawarah Daerah (Musda) XV ASITA Bali di Hotel InterContinental Bali, Jimbaran, Badung, Jumat (16/10). Musda ini menjadi momentum penting konsolidasi organisasi biro perjalanan wisata dalam merumuskan langkah strategis menghadapi dinamika industri.
Dalam arahannya, Gubernur Koster menyoroti maraknya praktik persaingan usaha yang tidak sehat. Salah satu yang menjadi perhatian serius Pemprov Bali adalah fasilitas akomodasi dan jasa pariwisata yang dipasarkan tanpa izin resmi, terutama yang beroperasi melalui platform perjalanan daring atau online travel agent (OTA).
Menurut Koster, praktik semacam ini merugikan para pelaku usaha tertib hukum yang telah memenuhi kewajiban perizinan. Oleh karena itu, pemerintah daerah akan memperketat penataan dan pengawasan regulasi agar tercipta iklim usaha yang berkeadilan.
Selain ketertiban industri, Koster menekankan bahwa daya saing Bali sangat bergantung pada kebersihan lingkungan dan ketahanan infrastruktur dasar. Pemprov Bali kini tengah mempercepat penanganan masalah sampah secara berkelanjutan melalui fasilitas Pengolahan Sampah menjadi Energi Listrik (PSEL).
Di sektor ketenagalistrikan, Bali juga tengah bersiap melepaskan ketergantungan pasokan listrik dari sistem Jawa yang selama ini disalurkan melalui kabel bawah laut. Untuk mewujudkan kemandirian energi bersih pada 2031, Pemprov Bali mendorong pembangunan pembangkit listrik berbahan bakar gas berkapasitas 1.550 megawatt serta pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) dengan kuota sekitar 1.000 megawatt.
“Keberhasilan pariwisata Bali harus diukur tidak hanya dari pertumbuhan jumlah wisatawan, tetapi juga dari manfaat ekonomi yang dirasakan masyarakat serta terjaganya adat, tradisi, budaya, dan lingkungan Bali,” tegas Koster.
Merespons arahan tersebut, Ketua DPD ASITA Bali, I Putu Winastra menyatakan kesiapan organisasinya untuk berdiri sejajar dengan pemerintah dalam menata industri biro perjalanan wisata. “ASITA Bali akan terus meningkatkan standar pelayanan dan profesionalisme para anggota, sekaligus aktif menjaga citra Bali sebagai destinasi berkelas dunia,” tegas Winastra. (BC18)















