Beranda Budaya Maprani, Tradisi Syukuran yang Merekatkan Kebersamaan Krama Desa Adat Saren

Maprani, Tradisi Syukuran yang Merekatkan Kebersamaan Krama Desa Adat Saren

0
Desa Adat Saren
Suasana maprani di Desa Adat Saren. (ist)

balibercerita.com – 

Bagi masyarakat Desa Adat Saren, Desa Budakeling, Kecamatan Bebandem, Kabupaten Karangasem, makanan bukan sekadar sajian untuk mengisi perut. Dalam sebuah tradisi yang telah diwariskan turun-temurun, makanan menjadi bagian dari ungkapan syukur, penghormatan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa sekaligus sarana mempererat kebersamaan.

 

Tradisi itu dikenal dengan nama maprani, yang dilaksanakan bertepatan dengan pamandaan agung (pangebek) aci usaba desa. Tradisi ini menjadi bagian dari rangkaian usaba desa yang dilaksanakan secara periodik setiap dua tahun sekali.

 

Maprani telah berkembang menjadi salah satu kearifan lokal yang melekat dalam kehidupan masyarakat Desa Adat Saren. Tradisi tersebut menggambarkan kuatnya hubungan antara kehidupan keagamaan, adat, budaya agraris, dan rasa kekeluargaan masyarakat setempat.

 

Sebelum maprani dilaksanakan, pada pagi hari pratima Ida Batara di-iring masuci ke Sela Majemuh. Pratima kemudian diiring kembali ke pura untuk selanjutnya dilaksanakan pacaruan padatengan saat tengai tepet (puncak siang hari). Usai upacara, banten caru tersebut kemudian di-lebar di pangkalan atau perbatasan desa. Dalam prosesi ini, pratima Ida Batara di-iring meyangyang mengikuti caru.

Baca Juga:   Bakti Panganyar Pemkab Badung di Pura Mandara Giri Semeru Agung Lumajang, Bupati Ajak Jaga Nilai Sradha dan Gotong Royong

 

Perjalanan menuju pemangkalan berlangsung dengan suasana penuh semangat. Layaknya tradisi masuryak, para krama bersorak dan meneriakkan suara sekeras-kerasnya hingga tiba di pemangkalan. Namun, suasana berubah ketika perjalanan kembali menuju desa. Krama harus menjaga keheningan, tanpa lagi melakukan masuryak.

 

Setelah Ida Batara kembali ke payogan, rangkaian kemudian berlanjut dengan pelaksanaan maprani. Warga berkumpul bersama keluarga di Bale Banjar Saren Kauh dengan membawa berbagai persembahan banten dan makanan. Sajian yang dibawa tidak hanya berupa nasi, tetapi juga kuliner khas Bali, aneka buah, jajan, dan minuman.

Baca Juga:   Wimbakara Seni Lukis Wayang Klasik Bali, Dua Duta Badung Digembleng Sanggar Krisnarupa

 

Menariknya, hidangan yang dipersembahkan juga erat kaitannya dengan kehidupan agraris masyarakat Saren. Daging yang digunakan dalam olahan makanan utamanya berasal dari hasil sawah, mencerminkan bagaimana tradisi keagamaan dan adat tumbuh beriringan dengan kehidupan masyarakat yang sejak lama menggantungkan kehidupan pada sektor pertanian.

 

Seluruh hidangan yang telah disiapkan tidak langsung disantap. Makanan terlebih dahulu didoakan dan dipersembahkan sebagai bentuk penghormatan serta ungkapan rasa syukur atas karunia dan berkah yang diyakini berasal dari Ida Sang Hyang Widhi Wasa.

 

Setelah prosesi persembahan dan doa selesai, barulah warga bersama-sama menikmati hidangan tersebut. Tidak ada sekat dalam santap bersama itu. Masyarakat duduk berdampingan menikmati makanan yang telah dipersiapkan.

 

Di titik inilah maprani memiliki makna yang lebih luas. Tradisi tersebut tidak hanya berbicara mengenai makanan atau persembahan, tetapi juga tentang bagaimana masyarakat menjaga hubungan sosial melalui kebersamaan.

Baca Juga:   Ketua DPRD Badung Harapkan PKB Mampu Perkuat Semangat Pelestarian Budaya

 

Maprani menjadi ruang untuk berkumpul, berbagi dan memperkuat rasa kekeluargaan. Di tengah kehidupan masyarakat yang terus berkembang, tradisi ini tetap dipertahankan sebagai bagian dari kehidupan masyarakat Desa Adat Saren.

 

Dengan demikian, maprani tidak berhenti sebagai sebuah ritual yang dilakukan setiap dua tahun sekali. Di dalamnya terdapat pesan tentang rasa syukur, penghormatan terhadap alam dan hasil bumi, serta pentingnya menjaga kebersamaan antarkrama.

 

Bagi masyarakat Saren, duduk bersama dan menikmati hidangan setelah rangkaian persembahan menjadi gambaran sederhana bahwa rasa syukur tidak hanya diwujudkan melalui doa, tetapi juga melalui kebersamaan yang terus dirawat dari generasi ke generasi. (BC5)